logo

The Perspective Of Kalimantan Barat

Iklan
Memuat Hari & Tanggal...
Kembali Kategori: Kalimantan Barat

Agustiar Sabran Respon Pernyataan Ria Norsan Terkait Kabut Asap Limpahan dari Kalteng

Author 30 September 2026
Share:

Pernyataan Gubernur Kalimantan Barat (Kalbar) Ria Norsan mengenai kabut asap pekat di wilayahnya yang disebut sebagai limpahan dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah (Kalteng) menuai tanggapan keras dari Gubernur Kalteng, Agustiar Sabran.

Sebelumnya, Ria Norsan menyampaikan klaim tersebut saat melakukan kunjungan kerja untuk mengecek kepungan asap yang kian memburuk di Kabupaten Kayong Utara pada Senin (21/9/2026).

Ria Norsan menyebutkan bahwa asap yang mengepung Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara merupakan kiriman yang dibawa arus angin dari provinsi tetangga, Kalimantan Tengah.

Agustiar Sabran Minta Berpatokan pada Data Luasan Kebakaran

Menanggapi tuduhan tersebut, Gubernur Kalteng Agustiar Sabran meminta agar persoalan polusi asap karhutla tidak dinilai secara sepihak, persoalan tersebut juda dapat dilihat secara objektif berdasarkan data resmi luasan area yang terbakar di masing-masing provinsi.

Berdasarkan perbandingan data statistik karhutla, Agustiar menegaskan bahwa total luasan area yang terbakar di wilayah Kalimantan Barat justru tercatat lebih luas dibandingkan dengan area kebakaran di Kalimantan Tengah.

“Artinya kebakaran itu banyak sana (Kalbar) daripada kita (Kalteng), kira-kira begitu logikanya ya,” tegas Agustiar Sabran dilansir dari kalteng.vision.

Saling Klaim Ditengah Kepungan Asap Lintas Wilayah

Perdebatan antarpemimpin daerah ini mengemuka di tengah ancaman krisis udara beracun yang terus menyelimuti pulau Kalimantan. Faktor pergerakan angin dan titik api lintas batas memicu Silang pendapat terkait asal muasal polusi udara utama yang melumpuhkan aktivitas warga di kedua provinsi tersebut.

Baca Juga  Kabar Rupiah Jadi Angin Segar Warga Kalbar, Ini Kurs Sekarang

Meskipun dinamika perdebatan data luasan lahan terjadi di tingkat pejabat daerah, masyarakat di lapangan terus mendesak adanya koordinasi pemadaman yang riil dan masif di area perbatasan ketimbang saling tuduh sumber emisi asap.