
Kota Khatulistiwa kembali membuktikan gelarnya sebagai rahim bagi toleransi dan keberagaman yang kokoh. Pada Selasa malam (17/02/2026), kawasan Siantan, Pontianak Utara, menyuguhkan pemandangan yang tidak biasa sekaligus menghangatkan hati melalui sebuah pawai obor yang memadukan dua simbol budaya berbeda dalam satu barisan.
Masyarakat setempat mengubah rutinitas pawai obor tradisional menjadi sebuah perayaan lintas budaya yang memukau. Alih-alih hanya mengandalkan deretan api yang menyala di ujung bambu, warga memberikan kejutan visual bagi para penonton dengan menghadirkan replika naga raksasa—ikon yang sangat lekat dengan budaya Tionghoa—di tengah-tengah iring-iringan tersebut.
Atmosfer religius yang kental dari nyala obor bersinergi secara dinamis dengan liukan replika naga yang meluncur di sepanjang jalan protokol Siantan. Fenomena ini menciptakan pemandangan unik yang mencerminkan wajah asli Pontianak: inklusif dan harmonis.”Ratusan warga dari berbagai latar belakang etnis ikut serta dalam momen langka ini.” Ujar salah satu peserta pawai, Aceng
Aksi kreatif warga Siantan ini bukan sekadar tontonan visual. Secara tersirat, masyarakat sedang menunjukkan kepada dunia bagaimana nilai-nilai kerukunan tumbuh secara organik di tingkat akar rumput. Mereka tidak melihat naga atau obor sebagai milik satu golongan, melainkan sebagai aset kebersamaan yang bisa dirayakan secara kolektif.

