
Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (BEM UGM), Tiyo Ardianto, melontarkan kritik keras terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dianggap sarat masalah dan minim transparansi. Tiyo bahkan memplesetkan singkatan MBG menjadi “Maling Berkedok Gizi” sebagai bentuk protes atas prioritas anggaran yang dinilai mengabaikan hak dasar masyarakat.
“Pelaksanaan MBG harus diaudit dan dievaluasi menyeluruh agar benar-benar berpihak pada kepentingan rakyat. Sebab, program MBG ini lebih menguntungkan pihak tertentu, terutama penyedia pangan, yang bisa meraup keuntungan fantastis.” papar Tiyo
Ia menyoroti mekanisme penyediaan makanan yang dinilai menguntungkan pihak tertentu, dengan satu penyedia pangan (SPPG) bisa meraup keuntungan hingga Rp1,8 miliar dalam periode tertentu. Ia juga mengkritik sasaran program MBG yang dinilai tidak efektif dan hanya menyasar keluarga kaya.
Kritiknya muncul di tengah kontroversi pemberian Tanda Kehormatan Bintang Jasa Utama kepada Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana, yang disebut sebagai operator MBG. Program ini juga dikaitkan dengan kasus keracunan yang melibatkan puluhan ribu anak di berbagai daerah di Indonesia.
Ketua BEM UGM itu juga menyoroti anggaran pendidikan sebesar Rp223 triliun yang dianggap dirampas untuk kepentingan lain, sehingga banyak anak putus sekolah karena biaya dan guru honorer yang tidak sejahtera. Ia menyerukan perubahan makna akronim MBG agar sesuai dengan realitas yang terjadi di lapangan

