
Masjid Raya Mujahidin selalu punya daya tarik magis setiap kali bulan suci tiba. Sejak hari pertama Ramadhan, pelataran dan area sekitarnya berubah menjadi lautan manusia. Ratusan hingga ribuan orang datang membawa kerabat, sahabat, hingga pasangan untuk menikmati momen berbuka puasa bersama (bukber).
Namun, di balik kehangatan silaturahmi dan riuhnya tawa, ada pemandangan miris yang seolah menjadi “rahasia umum” setiap tahunnya. Fenomena ini memicu pertanyaan besar: Apakah kita datang untuk memakmurkan masjid, atau sekadar menjadikannya latar belakang konten dan wisata kuliner?
Bukber Jadi Prioritas
Momen paling memilukan terjadi tepat saat azan Maghrib berkumandang. Setelah membatalkan puasa, suasana yang seharusnya khusyuk menuju shaf sholat justru tetap riuh dengan obrolan.
Mirisnya, ketika imam sudah memulai takbiratul ihram, hanya sebagian kecil dari kerumunan tersebut yang beranjak masuk ke dalam masjid. Sisanya? Masih asyik bersenda gurau di atas tikar, sibuk berfoto, atau menuntaskan hidangan tanpa rasa bersalah.
Mungkin muncul pembelaan: “Kan sholat di akhir waktu juga bisa.” Perlu diingat, secara syariat waktu maghrib adalah yang paling pendek. Berbeda dengan Isya atau Dzuhur, jeda antara Maghrib dan hilangnya syafaq (cahaya merah) sangatlah singkat. Jadi, menunda sholat demi urusan yang tidak mendesak_apalagi posisinya di lingkungan masjid_adalah sebuah ironi yang menyedihkan.
Lemahnya Kesadaran Diri
Sisi gelap lainnya tertinggal saat kerumunan mulai bubar: Sampah. Plastik pembungkus takjil, sedotan, hingga sisa makanan seringkali masih berserakan di area pelataran.
Seringkali kita berlindung di balik kalimat, “Kan ada petugas kebersihan masjid.” Ini adalah pola pikir yang keliru. Kebersihan masjid bukan hanya tanggung jawab marbot atau petugas kebersihan. Sebagai seorang mukmin, menjaga kesucian tempat ibadah adalah cerminan dari iman itu sendiri.
Membiarkan sampah berserakan setelah kita “menumpang” tempat untuk makan gratis atau sekadar berkumpul menunjukkan kurangnya adab terhadap rumah Tuhan.
Bagaimana seharusnya?
Ramadhan di Masjid Raya Mujahidin seharusnya menjadi ajang pengabdian, bukan sekadar wisata musiman. Jangan sampai kita terjebak dalam euforia “keramaian” tapi kehilangan “kedekatan” dengan Sang Pencipta.

