logo

The Perspective Of Kalimantan Barat

Iklan
Memuat Hari & Tanggal...
Kembali Kategori: Uncategorized

Ternyata Pembacaan Proklamasi Bung Karno Hasil Reka Ulang!

Muhammad Rizki 13 Agustus 2026
Bagikan:

Mooda-Moodie Kalbar sudah tahu belum kalau suara khas Bung Karno saat membacakan Teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang sering didengar saat peringatan Hari Kemerdekaan bukan merupakan rekaman langsung pada 17 Agustus 1945 lho!

Pada hari bersejarah di Jalan Pegangsaan Timur 56 tersebut, dokumentasi yang berhasil diabadikan hanyalah berupa foto. Suara pembacaan naskah yang kini menjadi arsip audio bersejarah Indonesia baru direkam enam tahun kemudian, yakni pada tahun 1951.

Inisiasi Perekaman Ulang

Tokoh di balik keberadaan rekaman audio tersebut adalah Jusuf Ronodipuro (lahir di Salatiga, 19 November 1919), salah satu pejuang kemerdekaan Indonesia yang bekerja di stasiun radio pemerintah Jepang, Hoso Kyoku (sekarang menjadi Radio Republik Indonesia [RRI]).

Jusuf yang pada saat itu membidangi bagian penyiaran, menyadari arsip suara pembacaan Teks Proklamasi akan sangat dibutuhkan sebagai warisan sejarah bagi generasi mendatang. Atas dasar kesadaran tersebut, ia mengusulkan kepada Presiden Soekarno untuk merekam ulang suara pembacaan naskah tersebut.

Gagasan ini sempat mendapat penolakan dari Soekarno. Bagi Soekarno, Proklamasi Kemerdekaan adalah peristiwa sakral yang pembacaannya hanya dilakukan satu kali dan tidak dapat diulang. Namun, Jusuf terus meyakinkan Presiden mengenai pentingnya arti dokumen audio ini bagi sejarah perjalanan bangsa.

Akhirnya, Soekarno menyetujui usulan tersebut dan merekam ulang pembacaan teks Proklamasi di studio RRI pada tahun 1951. Jusuf kemudian menyiarkan kabar Proklamasi Kemerdekaan Indonesia ke seluruh pelosok Nusantara lewat radio yang dikenal khas hingga sekarang.

Baca Juga  Dinar Kuwait Jadi Mata Uang Terkuat di Dunia dengan 5 Alasan Ini

Catatan Peristiwa 17 Agustus 1945

Pada saat peristiwa pembacaan Proklamasi berlangsung pada 17 Agustus 1945, Jusuf Ronodipuro serta para staf dan wartawan di stasiun Hoso Kyoku tidak mengetahui secara langsung kejadian di Pegangsaan Timur. Hal ini disebabkan oleh ketatnya penjagaan militer Jepang yang melarang para pekerja radio keluar dari area stasiun radio.