
Pontianak, Mood Kalbar – Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data Pengeluaran per Kapita yang Disesuaikan menurut Jenis Kelamin Tahun 2025. Data ini menjadi salah satu indikator yang digunakan untuk melihat tingkat kesejahteraan dan daya beli masyarakat di berbagai daerah.
Angka Pengeluaran Tertinggi
Berdasarkan data tersebut, Kota Pontianak mencatat angka tertinggi di Kalimantan Barat. Pengeluaran per kapita yang disesuaikan untuk penduduk laki-laki mencapai Rp22,62 juta per orang per tahun, sementara perempuan mencapai Rp15,93 juta per orang per tahun.
Sementara itu, jika hanya melihat kategori kabupaten, Sambas menempati posisi tertinggi dengan angka Rp17,62 juta per orang per tahun untuk laki-laki. Posisi berikutnya ditempati Kubu Raya sebesar Rp16,06 juta dan Melawi sebesar Rp15,95 juta per orang per tahun.
Angka Terendah di Kalimantan Barat
Di sisi lain, Kapuas Hulu menjadi kabupaten dengan angka terendah, yakni Rp12,47 juta per orang per tahun untuk laki-laki. Disusul Kabupaten Landak dengan angka Rp12,50 juta dan Kayong Utara sebesar Rp13,16 juta per orang per tahun.
Untuk kategori perempuan, Ketapang mencatat angka tertinggi di antara seluruh kabupaten, yakni Rp8,13 juta per orang per tahun. Posisi berikutnya ditempati Mempawah sebesar Rp6,87 juta dan Landak sebesar Rp6,70 juta per orang per tahun.
Sebaliknya, angka terendah untuk kategori perempuan terdapat di Melawi yang hanya mencapai Rp5,03 juta per orang per tahun. Kemudian disusul Sekadau sebesar Rp5,22 juta dan Sanggau sebesar Rp5,27 juta per orang per tahun.
Istilah “pengeluaran”, perlu di pahami masyarakat bahwa dalam data ini bukan berarti setiap orang benar-benar membelanjakan uang sebesar itu setiap tahun. BPS menggunakan indikator pengeluaran per kapita yang disesuaikan sebagai alat ukur daya beli dan kesejahteraan masyarakat yang telah melalui proses perhitungan statistik.
Sebagai gambaran, angka Rp22,62 juta per tahun yang tercatat di Kota Pontianak setara dengan sekitar Rp1,88 juta per bulan atau sekitar Rp62 ribu per hari per orang. Karena itu, data ini lebih tepat digunakan untuk melihat perbandingan tingkat kesejahteraan antar daerah daripada menggambarkan pengeluaran riil setiap individu.
Data tersebut menunjukkan masih adanya perbedaan tingkat daya beli antarwilayah di Kalimantan Barat. Daerah perkotaan seperti Pontianak dan Singkawang masih berada di posisi atas, sementara sejumlah kabupaten di wilayah pedalaman mencatat angka yang lebih rendah. Kondisi ini menjadi gambaran bahwa pemerataan pembangunan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat masih menjadi tantangan yang perlu terus diperhatikan.
