
Mood Kalbar – Jeritan hati mendalam datang dari warga Dusun Tapang Bira, sebuah wilayah yang terletak di perbatasan antara Desa Landau Kumpai dan Desa Nanga Koman, Kecamatan Nanga Mahap, Kabupaten Sekadau yang tak kunjung mendapat instalasi listrik. Kamis, 18/06/2026.
Di tengah gemerlapnya era modernisasi, dusun ini seolah terlupakan dan menjadi satu-satunya wilayah setempat yang belum pernah mencicipi aliran listrik dari Perusahaan Listrik Negara (PLN).
Salah seorang warga, Bella, mengaku lelah terus-menerus disuapi janji manis yang tak kunjung terealisasi sejak tahun 2020 lalu.
”Kami masyarakat Dusun Tapang Bira sangat berharap ada pihak berwenang yang mau menanggapi dan memperhatikan keluh kesah kami. Kami butuh kepastian, agar tidak selalu diberikan janji-janji yang tidak pasti,” ungkap Bella dengan nada kecewa.
Persoalan ini bermula saat adanya pengajuan listrik untuk Desa Landau Kumpai yang membawahi empat dusun, termasuk Dusun Tapang Bira. Kala itu, seluruh warga Tapang Bira dengan antusias membubuhkan tanda tangan demi meloloskan proposal pengajuan tersebut.
Namun, bak disambar petir di siang bolong, kekecewaan mendalam harus mereka telan saat tiang-tiang listrik mulai berdiri di Desa Landau Kumpai. Pihak terkait justru melewati Dusun Tapang Bira. Alasan yang muncul ke permukaan cukup klasik: jumlah pelanggan di dusun tersebut dinilai terlalu sedikit, sehingga biaya perawatan jaringan dianggap tidak sebanding dengan perkiraan keuntungan ekonomis.
“Jauh sebelum itu, tepatnya pada tahun 2019, warga sebenarnya telah bergerak mandiri melalui jalur swadaya. Mereka mengajukan proposal resmi kepada pihak PLN Ranting Sekadau, dengan tembusan yang disampaikan langsung kepada Camat Nanga Mahap, Bupati Sekadau, hingga DPRD Kabupaten Sekadau.” lanjutnya.
Tindak lanjut sempat berjalan ketika petugas melakukan pengukuran jalur dari arah Desa Nanga Koman. Namun, asa warga kembali pupus saat hasil sosialisasi menunjukkan estimasi biaya yang sangat mencekik, yakni berkisar Rp7.500.000 per Kepala Keluarga (KK). Angka yang terlampau besar ini membuat mayoritas warga terpaksa mundur karena keterbatasan ekonomiHingga saat ini, untuk penerangan di malam hari, warga setempat mengandalkan sebuah mesin genset.








