
Tiga pasien di Kabupaten Kayong Utara dilaporkan meninggal dunia di tengah kondisi kualitas udara yang merosot tajam. Kabar ini pertama kali diungkapkan oleh seorang tenaga kesehatan melalui media sosial X dengan akun @ajeng_ap.. Pemilik akun menyebut ketiga pasien yang terdiri dari bayi, balita, dan remaja tersebut sempat mendapatkan perawatan di RSUD Sultan Muhammad Jamaludin I Kayong Utara sebelum akhirnya wafat akibat mengalami bronkopneumonia.
Kabar duka tersebut beredar di saat sembilan wilayah pemantauan di Kayong Utara mencatatkan kualitas udara pada kategori Berbahaya pada Senin (21/9/2026). Pada hari yang sama, Dinas Kesehatan dan Keluarga Berencana (Dinkes KB) Kayong Utara juga mencatat lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) hingga 110 kasus.
Keluhan Tenaga Kesehatan di Tengah Kepungan Asap
Melalui unggahannya, pemilik akun @ajeng_ap. menyuarakan keprihatinannya atas krisis udara beracun yang terus membelit wilayah Kalimantan akibat karhutla.
“Sudah berbulan-bulan kami di Kalimantan dikepung kebakaran di mana-mana. Asap mengepul tiada henti. ISPU sampai di atas 1.000, racun yang kami hirup,” tulis akun tersebut.
Penelusuran Rekam Medis Pasien
Menanggapi informasi yang viral di publik, Kepala Dinkes KB Kayong Utara, dr. Maria Fransisca, menyatakan bahwa pihaknya langsung melakukan verifikasi lapangan. Maria mengungkapkan, berdasarkan laporan harian yang masuk ke dinas hingga Senin (21/9/2026), belum ada catatan kematian yang masuk secara resmi terkait kondisi tersebut.
“Kami cek dulu, sebab tidak ada laporan kematian yang masuk ke kami. Dari laporan harian yang kami kumpulkan setiap hari, tidak ada yang dilaporkan meninggal dunia,” ujar Maria.
Dinkes KB Kayong Utara memastikan akan berkoordinasi resmi dengan pihak RSUD Sultan Muhammad Jamaludin I untuk meminta resume medis. Penelusuran rekam medis ini dinilai krusial guna memastikan diagnosis pasti serta mengetahui secara pasti apakah kematian ketiga pasien berhubungan langsung dengan paparan kabut asap karhutla atau tidak.