
Kubu Raya, Mood Kalbar – Kondisi infrastruktur pendidikan yang layak dan aman tampaknya masih menjadi barang mahal bagi siswa-siswi di pelosok daerah. Salah satu potret pilu ini terlihat jelas di SMA Islam Alfariq, yang berlokasi di Desa Bengkarek, Kecamatan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat.
Sekolah yang menjadi tumpuan harapan anak-anak desa untuk meraih masa depan ini kini berada dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Kerusakan parah di berbagai sisi bangunan tidak hanya mengganggu proses belajar-mengajar, tetapi juga mengancam keselamatan warga sekolah. Pembangunan ulang total (revitalisasi) menjadi satu-satunya jalan keluar yang mendesak.
Kronologi dan Potret Kerusakan: Berdasarkan pantauan di lapangan, kerusakan yang dialami SMA Islam Alfariq sudah masuk dalam kategori rusak berat. Sebagian besar bangunan yang didominasi material kayu dan semi-permanen ini telah digerogoti usia dan cuaca ekstrem.
Atap Bocor dan Plafon Ambrol: Saat musim hujan tiba, aktivitas kelas praktis lumpuh. Atap yang bocor membuat air menggenangi ruang kelas, merusak buku, serta fasilitas belajar. Plafon di beberapa ruangan bahkan sudah runtuh, menyisakan lubang besar yang sewaktu-waktu bisa menjatuhkan material berbahaya ke kepala siswa.
Dinding Retak dan Struktur Kayu Lapuk: Tiang-tiang penyangga bangunan tampak mulai miring. Dinding pembatas antar kelas sudah banyak yang jebol dan lapuk, sehingga suara dari satu kelas bocor ke kelas sebelah, memecah konsentrasi belajar.
Fasilitas Sanitasi dan Pendukung yang Minim: Selain ruang kelas yang tidak layak, fasilitas penunjang seperti toilet siswa dan guru juga dilaporkan rusak berat dan tidak higienis, jauh dari standar sekolah sehat.
”Kalau hujan deras, kami cemas. Air masuk ke mana-mana. Mau tidak mau belajarnya digabung atau digeser ke sudut yang tidak bocor. Kami hanya ingin belajar dengan tenang tanpa takut atapnya roboh,” ungkap salah seorang siswa dengan nada pasrah.
Dampak Psikologis dan Penurunan Mutu Belajar
Kondisi fisik sekolah yang tidak layak ini membawa dampak beruntun pada kualitas pendidikan di Desa Bengkarek. Rasa was-was yang menggelayuti para guru dan siswa secara perlahan mengikis motivasi belajar.
Guru harus memutar otak ekstra keras untuk tetap menyampaikan materi di tengah keterbatasan fasilitas. Sementara itu, orang tua murid dilingkupi rasa khawatir setiap kali melepas anak-anak mereka pergi ke sekolah. Jika dibiarkan berlarut-larut, ketimpangan kualitas pendidikan antara wilayah pelosok Kubu Raya dan area perkotaan akan semakin melebar.
Menanti Uluran Tangan Pemerintah dan Dermawan
Pihak pengelola SMA Islam Al-Fariq bersama tokoh masyarakat Desa Bengkarek sebenarnya bukan tanpa upaya. Perbaikan-perbaikan kecil secara swadaya kerap dilakukan. Namun, dengan keterbatasan dana sisa operasional, perbaikan tersebut hanya bersifat sementara—ibarat menambal kain yang sudah usang.
Sekolah ini membutuhkan pembangunan ulang secara menyeluruh (total rehab) dengan struktur bangunan yang lebih permanen dan kokoh.
Masyarakat setempat sangat berharap Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Barat (Mengingat wewenang SMA berada di tingkat Provinsi) serta Pemerintah Kabupaten Kubu Raya dapat segera turun tangan melakukan peninjauan dan memasukkan SMA Islam Alfariq ke dalam prioritas anggaran pembangunan. Tak hanya pemerintah, uluran tangan dari sektor swasta melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) atau lembaga filantropi juga sangat dinantikan untuk menyelamatkan masa depan anak-anak di Kecamatan Sungai Ambawang.
