
Kubu Raya, Mood Kalbar – Sebuah pemandangan menyesakkan dada terekam setiap hari di perempatan jalan menuju Jembatan Kapuas 2, Kabupaten Kubu Raya. Di tengah deru mesin kendaraan dan debu jalanan, anak-anak usia sekolah tampak menyambung nasib, menengadahkan tangan demi rupiah, alih-alih duduk tenang di bangku kelas. Minggu, 25/04/2026.
Fenomena ini memicu keprihatinan mendalam bagi warga yang melintas, salah satunya datang dari seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) yang sedang bertugas di wilayah tersebut. Melalui pesan singkat, ia membagikan keresahannya kepada Redaksi moodkalbar mengenai nasib para “penerus bangsa” yang seolah terlupakan.
Antara Hak Dasar dan Realita Pahit.
Pemerintah saat ini tengah gencar menyuarakan program-program kesejahteraan, seperti Program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk memastikan tumbuh kembang anak Indonesia yang optimal. Namun, di sudut Kubu Raya ini, realitanya berbanding terbalik.
“Hati saya miris setiap melihat mereka. Alih-alih mendapatkan hak dasarnya seperti asupan bergizi atau pendidikan yang layak, mereka justru menghabiskan waktu di jalanan,” tulis pelapor yang enggan disebutkan namanya tersebut.
Ia menekankan bahwa pendidikan adalah pondasi utama bangsa. Jika anak-anak ini terus dibiarkan berada di jalanan tanpa intervensi, masa depan mereka—dan secara luas, masa depan daerah—sedang berada dalam pertaruhan besar.
Menanti Atensi Pemerintah Daerah
Kehadiran anak jalanan dan pengemis anak bukan sekadar masalah kemiskinan, melainkan masalah perlindungan anak yang kompleks. Melalui sorotan ini, diharapkan Pemerintah Daerah (Pemda) Kubu Raya melalui dinas terkait dapat:
Melakukan Penertiban Humanis: Menjangkau anak-anak tersebut untuk mengetahui latar belakang keluarga mereka.
Pendampingan Sosial: Memastikan mereka kembali ke jalur pendidikan formal maupun non-formal.
Implementasi Program Pusat: Memastikan program bantuan seperti Makan Bergizi Gratis tepat sasaran merangkul anak-anak dari kalangan ekonomi paling bawah.
Pendidikan Tak Boleh Terabaikan
Sangat kontras melihat ambisi Indonesia Emas 2045 jika di lapangan kita masih menyaksikan anak-anak yang terabaikan terpaksa menyambung nasib. Masalah ini memerlukan sinergi, bukan hanya dari pemerintah, tapi juga kepedulian masyarakat untuk tidak membiarkan fenomena ini menjadi “pemandangan biasa” yang dianggap normal.
Sudah saatnya Jembatan Kapuas 2 bukan hanya menjadi penghubung transportasi, tetapi juga pengingat bahwa ada hak anak-anak yang harus segera diseberangkan menuju masa depan yang lebih layak.
