
Pontianak, Mood Kalbar – Sastrawan sekaligus sosiolog terkemuka Indonesia, Okky Madasari, Ph.D., kembali memantik perhatian publik lewat untaian bait puisi yang sarat akan kritik sosial. Melalui karya singkat namun menohok berjudul “Telinga dan Mata”, penulis yang konsisten menyuarakan perlawanan terhadap ketidakadilan ini menelanjangi jurang pemisah yang lebar antara klaim keberhasilan pemerintah dan fakta pahit di akar rumput.
Unggahan akun Instagram Mood Kalbar yang mengutip puisi tersebut langsung memicu resonansi kuat dari netizen yang merasakan langsung himpitan ekonomi saat ini.
Puisi Kritis Okky Madasari
Dalam puisi yang ia tulis, Okky secara cerdas menggunakan metafora indra “telinga” untuk menggambarkan narasi-narasi manis yang kerap keluar dari podium kekuasaan, lalu membenturkannya dengan indra “mata” sebagai saksi realitas objektif masyarakat.
Bait-bait puisinya menyentil keras klaim penciptaan belasan juta lapangan kerja baru yang selalu menjadi jargon politik. Nyatanya, mata publik justru menyaksikan gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang terus menghantui sektor industri nasional dan daerah, termasuk di Kalimantan Barat.
Tidak berhenti di situ, Okky juga sering menyoroti program-program populis yang kontras dengan merosotnya daya beli riil masyarakat jelata.
Konsisten Melawan Ketidakadilan
Sebagai seorang akademisi bergelar Doktor (Ph.D.) di bidang sosiologi, Okky Madasari memang terkenal lewat garis karyanya yang tajam dalam memotret kondisi sosial-politik Indonesia. Ia selalu memfokuskan tulisan-tulisannya pada napas perlawanan terhadap ketidakadilan, kemanusiaan, serta kebebasan berpendapat.
Lewat karyanya ini, Okky merangkum rasa frustrasi kolektif publik. Pidato-pidato normatif dari para pejabat dinilai gagal menjadi solusi atas jeritan ekonomi rakyat yang tengah berjuang bertahan hidup di tengah badai inflasi dan ketidakpastian kerja. Dengan janji-janji yang didengar masyarakat, nyatanya sampai saat ini masih belum bisa dirasa dan sulit diterima.
