
Bagi banyak orang, karbit sering dikenal sebagai bahan untuk mematangkan buah. Tapi buat warga Kalimantan Barat, terutama Pontianak, karbit punya makna yang lebih khas: langsung teringat pada tradisi Meriam Karbit yang selalu identik dengan Ramadan dan malam Lebaran.
Secara ilmiah, karbit adalah kalsium karbida (CaC2), yaitu senyawa kimia berbentuk kristal padat berwarna abu-abu kehitaman. Karbit digunakan untuk menghasilkan gas asetilena (C2H2) saat bereaksi dengan air. Gas ini mudah terbakar dan menghasilkan panas tinggi, sehingga banyak dimanfaatkan untuk memotong dan mengelas besi maupun baja di industri perkapalan, pertambangan, karoseri mobil, hingga industri kecil. Selain itu, karbit juga digunakan dalam proses pemisahan kotoran logam di industri peleburan dan pertambangan.
Namun di tengah masyarakat, karbit lebih populer karena sering dipakai untuk membantu proses pematangan buah. Bahkan, Emdeki juga menyebut karbit memang dapat digunakan oleh sebagian orang untuk mempercepat buah matang.
Nah, kalau di Kalbar, karbit punya “panggung” yang berbeda. Bahan ini menjadi unsur utama dalam Meriam Karbit, tradisi khas Pontianak yang menghasilkan dentuman keras saat dimainkan di tepian Sungai Kapuas. Jadi, kalau daerah lain ingat karbit sebagai bahan industri atau pematang buah, warga Kalbar justru ingatnya pada budaya, tradisi, dan suasana malam Lebaran.

Kalau di daerah lain karbit identik dengan buah, di Pontianak karbit identik dengan dentuman khas malam Lebaran. Tradisi Meriam Karbit sudah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat, terutama warga yang tinggal di sepanjang tepian Sungai Kapuas. Tradisi ini rutin dimainkan saat bulan Ramadan hingga malam takbiran menyambut Hari Raya Idulfitri.
Meriam Karbit sendiri merupakan permainan rakyat tradisional yang menggunakan meriam berbahan kayu besar, umumnya dari kayu mabang atau meranti. Ukurannya pun tidak kecil. Diameter meriam berkisar 50–70 sentimeter dengan panjang sekitar 5–6 meter, bahkan ada yang disebut bisa mencapai 4–7 meter. Saat karbit dimasukkan dan bereaksi dengan air, lalu disulut melalui lubang khusus, muncullah dentuman keras yang menjadi ciri khas tradisi ini.
Singkatnya, karbit bukan cuma soal kimia. Di Kalimantan Barat, karbit juga punya nilai budaya yang kuat.

