
Pontianak – Siapa yang tidak kenal dengan budaya “nongki” di Kalimantan Barat? Dari deretan warung kopi (warkop) legendaris di Jalan Gajah Mada hingga kafe kekinian di Jalan Reformasi dan sekitarnya, berkumpul sambil menikmati minuman manis sudah menjadi identitas sosial kita. Namun, di balik keriuhan tawa dan kepulan asap rokok, ada ancaman kesehatan yang sedang mengintai: Kanker.
Tantangan terbesar penanganan kanker di Indonesia saat ini bukan hanya soal fasilitas medis, melainkan rendahnya kesadaran masyarakat untuk melakukan deteksi dini.
Ketua Umum Yayasan Kanker Indonesia (YKI), Prof. Dr. dr. Aru Wisaksono Sudoyo, mengungkapkan fakta mengejutkan bahwa sekitar 70% hingga 75% pasien kanker di Indonesia baru mendatangi dokter ketika penyakitnya sudah memasuki stadium 3 atau 4.
Kondisi ini sangat disayangkan karena kanker yang ditemukan pada stadium dini memiliki peluang sembuh yang jauh lebih tinggi dan biaya pengobatan yang lebih terjangkau dibandingkan stadium lanjut yang membutuhkan terapi kompleks dan mahal.
Genetik Hanya 10%, Gaya Hidup Pegang Kendali Utama
Dalam podcast terbaru Yayasan Kanker Indonesia (YKI), Prof. Dr. dr. Aru Wisaksono Sudoyo mengingatkan bahwa 90% pemicu kanker adalah gaya hidup, dan makanan memegang peran lebih besar (35%) daripada rokok (30%). Bagaimana kondisi ini berhubungan langsung dengan kebiasaan kita di Kalbar?
Jebakan Kopi Susu dan Minuman Tinggi Gula
Di Pontianak, kopi bukan sekadar minuman, tapi gaya hidup. Namun, tren saat ini bergeser ke kopi susu kental manis atau minuman boba yang mengandung kadar gula dan krimer nabati sangat tinggi. Prof. Aru menegaskan bahwa gula berlebih adalah bahan bakar bagi obesitas, dan obesitas adalah faktor risiko utama kanker. Kebiasaan mengonsumsi minuman manis setiap hari saat nongkrong secara perlahan “melemahkan” sistem keamanan tubuh kita dalam melawan sel abnormal.
Dominasi Makanan UPF: Dari Sosis Goreng hingga Kornet
Masyarakat Kalbar, terutama di wilayah hulu seperti Sintang atau Kapuas Hulu, sering terjebak pada konsumsi Ultra-Processed Food (UPF) karena alasan praktis. Makanan olahan seperti sosis, nugget, dan mi instan yang sering menjadi menu pendamping saat nongkrong atau stok di rumah, mengandung pengawet dan zat karsinogenik. Prof. Aru memperingatkan bahwa makanan yang sanggup bertahan lama di rak toko biasanya sudah kehilangan nutrisi aslinya dan justru memicu kerusakan sel jika dikonsumsi jangka panjang.
Asap Rokok dan Kurangnya Gerak
Nongkrong di Kalbar rasanya tidak lengkap tanpa rokok. Kombinasi antara paparan asap rokok (baik perokok aktif maupun pasif) dengan pola makan buruk menciptakan efek “bom waktu”. Apalagi, budaya nongkrong sering kali bersifat sedenter—kita duduk berjam-jam tanpa aktivitas fisik. Padahal, olahraga sederhana seperti jalan kaki sangat efektif untuk memicu reaksi biokimia yang bisa menekan pertumbuhan sel kanker sedini mungkin.
Waspada ‘Bom Waktu’ Makanan Ultra-Proses.
Dalam diskusi tersebut, Prof. Aru memberikan peringatan keras terhadap konsumsi makanan ultra-proses (Ultra-Processed Food / UPF). Makanan yang mengandung banyak pengawet, garam, gula, dan lemak jenuh—seperti sosis, kornet, hingga minuman manis kekinian—merupakan pemicu kanker yang nyata.
Proses terbentuknya kanker dari satu sel abnormal menjadi tumor yang terdeteksi memakan waktu lama, yakni antara 5 hingga 20 tahun. Oleh karena itu, apa yang dikonsumsi oleh generasi muda saat ini adalah “investasi” kesehatan atau justru “bom waktu” di masa depan.
3 Kunci Utama Menurunkan Risiko Kanker
Untuk menekan angka kanker di Indonesia, Prof. Aru membagikan tiga langkah sederhana yang bisa dilakukan setiap individu:
Mempertahankan Berat Badan Ideal: Obesitas merupakan salah satu faktor risiko utama kanker.
Olahraga Teratur: Tidak perlu mahal, cukup jalan kaki minimal 30 menit setiap hari untuk memicu reaksi biokimia yang menekan sel kanker.
Pola Makan Sehat: Mengurangi makanan olahan dan memperbanyak konsumsi rempah alami seperti kunyit, bawang putih, dan temulawak yang memiliki sifat anti-kanker.
Prof. Aru mengajak masyarakat untuk lebih peka mendengarkan “jeritan” tubuh, seperti adanya benjolan yang tidak sakit, perdarahan tidak wajar, hingga perubahan pola buang air besar yang drastis.
“Jangan tunggu sakit baru ke dokter. Manfaatkan pemeriksaan yang ada seperti papsmear atau mamografi. Kanker itu harus dikeroyok bersama oleh masyarakat, pasien, dan pemerintah agar angkanya bisa turun,” tutupnya.
Kesehatan adalah tanggung jawab pribadi yang dimulai dari pilihan hidup sehari-hari. Dengan menjaga pola makan dan rutin melakukan cek kesehatan, kita tidak hanya melindungi diri sendiri, tetapi juga membantu mewujudkan generasi emas Indonesia yang bebas dari beban kanker.

