
Jalan Kartini di Sanggau berubah wajah pada Senin, 2 Maret 2026. Ribuan warga memadati kawasan Pekong Tri Dharma untuk menyaksikan Ritual Cuci Jalan yang menjadi tradisi tahunan menjelang Perayaan Tahun Baru Imlek dan Cap Go Meh 2026.
Sejak siang, mereka sudah berdatangan. Ada yang dari dalam kota, ada pula yang sengaja turun dari kampung. Bawa kursi lipat, bawa keluarga, bawa bekal. Semua ingin mendapat tempat terbaik.
Ritual dimulai pukul 15.30 WIB. Naga dan barongsai menari diiringi tabuhan tambur. Tatung dari Thai San Pak Kung, Nek Merah, Hak Kong Pau, dan Nek Uyut ikut dalam barisan, berjalan dalam kondisi kerasukan roh leluhur, sebuah pemandangan yang selalu menarik perhatian. Rute arak-arakan mulai dari Pekong, keliling kota sepanjang 2-3 kilometer, lalu kembali ke titik awal. Cukup menguras tenaga, tapi bagi peserta dan penonton, ini harga yang layak untuk menjaga tradisi.
Ritual Cuci Jalan bukan sekadar arak-arakan. Bagi warga Tionghoa Sanggau, ini adalah warisan turun-temurun: menyucikan jalan yang akan dilalui saat puncak Cap Go Meh, menolak bala, dan memohon keselamatan.
Tapi yang hadir bukan hanya warga Tionghoa. Warga Melayu, Dayak, dan berbagai latar belakang lain ikut memadati lokasi. Ada yang penasaran, ada yang memang menjadikan ini agenda tahunan, ada pula yang datang karena diajak tetangga.

Di tengah ribuan manusia, Polres Sanggau dan Polsek Kapuas bergerak mengamankan. Bukan untuk membubarkan, tapi memastikan semua berjalan aman. Kabag Ops AKP PSC. Kusuma Wibawa menjelaskan pengamanan dilakukan terbuka dan tertutup. Personel ditempatkan di titik-titik strategis. Arus lalu lintas di sejumlah ruas dialihkan. Sempat padat, tapi petugas bergerak cepat.
Hasilnya berjalan sesuai harapan. Ribuan orang menikmati pertunjukan tanpa saling sikut, tanpa ketegangan. Polisi mengapresiasi, tapi apresiasi itu lebih tepat untuk warga Sanggau sendiri yang menjaga kedewasaan dan toleransi.

Fenomena ini menarik karena toleransi di Sanggau terasa organik. Bukan karena instruksi bupati atau ancaman sanksi sosial, tetapi karena sudah terbiasa hidup berdampingan.
Menjelang maghrib, arak-arakan kembali ke pekong. Lelah terlihat di wajah peserta, tapi senyum mengembang. Tradisi tahun ini sudah dijalankan. Tinggal menunggu puncak Cap Go Meh esok hari. Warga mulai membubarkan diri. Kembali ke rumah masing-masing. Bawa cerita untuk keluarga. Bawa kesan bahwa hari ini mereka menyaksikan harmoni yang nyata.

Petugas kebersihan mulai bekerja di sudut jalan. Jalan kembali bersih, siap dioperasikan kembali. Ritual Cuci Jalan di Sanggau mungkin tak seheboh Cap Go Meh di Singkawang atau Imlek di Glodok. Yang terpenting, keyakinan bahwa perbedaan bukan untuk ditakuti, tapi dirayakan.

