
Mood Kalbar – Pergerakan nilai tukar mata uang dunia kembali menjadi perhatian publik setelah nilai Dolar Amerika Serikat (USD) yang hampir menyentuh angka Rp18.000. Kurs tersebut membuat masyarakat mulai membandingkan posisi rupiah dengan mata uang negara lain yang memiliki nilai jauh lebih tinggi maupun lebih rendah.
Dalam dunia ekonomi, kuat atau lemahnya mata uang biasanya dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari kondisi ekonomi nasional, tingkat inflasi, cadangan devisa, stabilitas politik, hingga aktivitas perdagangan internasional. Karena itu, tidak semua negara dengan mata uang bernilai kecil dapat langsung dianggap memiliki ekonomi yang buruk.
10 Mata Uang Terkuat di Dunia 2026
Berdasarkan data dari Forbes Advisor 2026 per awal Mei 2026 berikut daftar mata uang yang memiliki nilai tertinggi saat ini:
- Dinar Kuwait (KWD) – sekitar Rp57.872
- Dinar Bahrain (BHD) – sekitar Rp47.188
- Rial Oman (OMR) – sekitar Rp46.298
- Dinar Yordania (JOD) – sekitar Rp25.108
- Poundsterling Inggris (GBP) – sekitar Rp24.039
- Pound Gibraltar (GIP) – sekitar Rp24.000
- Dolar Kepulauan Cayman (KYD) – sekitar Rp21.000
- Franc Swiss (CHF) – sekitar Rp19.500
- Euro (EUR) – sekitar Rp19.231
- Dolar Amerika Serikat (USD) – Rp17.807
Dinar Kuwait masih mempertahankan posisinya sebagai mata uang dengan nilai tertinggi di dunia. Satu Dinar Kuwait bahkan setara hampir Rp58 ribu jika dikonversikan menggunakan kurs saat ini.
10 Mata Uang Terlemah di Dunia 2026
Di sisi lain, terdapat sejumlah mata uang yang memiliki nilai sangat rendah terhadap dolar maupun rupiah, antara lain:
- Rial Iran (IRR)
- Dong Vietnam (VND)
- Leone Sierra Leone (SLE)
- Kip Laos (LAK)
- Som Uzbekistan (UZS)
- Guarani Paraguay (PYG)
- Franc Guinea (GNF)
- Ariary Madagaskar (MGA)
- Shilling Uganda (UGX)
- Rupiah Indonesia (IDR)
Meski masuk dalam kelompok mata uang bernominal rendah terhadap dolar AS, rupiah masih berada di atas beberapa negara yang mengalami tekanan ekonomi lebih berat. Nilai rupiah saat ini berada di kisaran Rp17.807 per dolar AS.
Jika Rupiah Melemah Apakah Indonesia Negara Miskin?
Tidak selalu. Banyak masyarakat menganggap nilai mata uang tinggi berarti negara kaya dan nilai mata uang rendah berarti negara miskin. Padahal kenyataannya tidak sesederhana itu.
Sebagai contoh, Vietnam memiliki mata uang Dong dengan nominal yang sangat kecil jika dibandingkan dolar AS. Namun negara tersebut justru dikenal memiliki pertumbuhan ekonomi yang cukup stabil dalam beberapa tahun terakhir.
Karena itu, para ekonom menilai kekuatan ekonomi suatu negara tidak hanya dilihat dari nilai mata uangnya saja, tetapi juga dari tingkat pendapatan masyarakat, produktivitas industri, stabilitas ekonomi, hingga kemampuan pemerintah menjaga inflasi.
Meski demikian, nilai tukar tetap menjadi indikator penting karena berpengaruh terhadap harga barang impor, biaya perjalanan luar negeri, investasi, hingga daya beli masyarakat terhadap produk global.
