
Pontianak, Mood Kalbar – Saluran YouTube resmi MPR RI kembali memancing amarah netizen Kalimantan Barat setelah kedapatan melakukan kesalahan fatal dalam penulisan identitas wilayah pada caption tayangan Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar pada kanal YouTube MPRGOID. Bukannya menuliskan lokasi acara yang benar, admin akun tersebut justru mencantumkan nama provinsi lain, yang memperpanjang deretan ketidaktelitian panitia pusat dalam mengelola ajang bergengsi ini.
Kesalahan tersebut terlihat jelas pada paragraf akhir deskripsi video yang mengunggah proses seleksi di Bumi Khatulistiwa. Deskripsi unggahan atau caption tersebut secara eksplisit menuliskan: “Daftar 9 Delegasi Peserta Seleksi Provinsi Bangka Belitung.” Padahal, jika penonton merujuk pada isi video dan paragraf awal deskripsi, seluruh konten tersebut membahas tuntas mengenai delegasi dari Provinsi Kalimantan Barat.

Ketidaktelitian tim penyunting konten YouTube MPR RI ini menuai polemik baru. Publik menilai tim media sosial lembaga negara tersebut bekerja secara ceroboh dan tidak profesional dalam melakukan proses verifikasi data sebelum mengunggah konten ke ruang publik.
Kesalahan penulisan nama provinsi ini menambah luka bagi masyarakat Kalbar yang sebelumnya sudah kecewa akibat insiden salah nilai oleh dewan juri dan sikap MC yang kontroversial.
Insiden ini membuktikan adanya kelemahan koordinasi yang serius di internal Sekretariat Jenderal MPR RI dalam mengawal LCC Empat Pilar 2026. Meskipun pihak MPR RI telah melayangkan permohonan maaf secara umum terkait polemik di Kalbar, kesalahan teknis yang terus berulang seperti salah tulis wilayah ini menunjukkan bahwa proses evaluasi belum menyentuh aspek ketelitian administratif.
Pegiat media sosial kini menyoroti bagaimana sebuah lembaga tinggi negara bisa melakukan kesalahan mendasar dalam mengidentifikasi wilayah peserta seleksi. Hal ini sangat kontras dengan semangat Empat Pilar yang menjunjung tinggi pemahaman tentang wilayah kesatuan Indonesia.
Hingga saat ini, netizen terus membanjiri kolom komentar dan menuntut perbaikan segera pada konten tersebut agar tidak terjadi disinformasi yang lebih luas mengenai asal daerah para delegasi siswa yang telah berjuang di babak final.
