
Pontianak, Mood Kalbar – Tingkat perceraian di Provinsi Kalimantan Barat menempatkan Kabupaten Sambas di urutan pertama. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Barat, wilayah “Bumi Terigas” ini mencatatkan angka perceraian paling tinggi, disusul ketat oleh Kota Pontianak di posisi kedua.
Fenomena ini mencerminkan tantangan besar bagi ketahanan keluarga di wilayah Kalimantan Barat, di mana ribuan pasangan memilih untuk mengakhiri ikatan pernikahan mereka sepanjang tahun laporan.
Perceraian di Sambas dan Pontianak Jadi Sorotan
Kabupaten Sambas mencatatkan total angka perceraian yang sangat signifikan, yakni mencapai 1.051 kasus. Angka ini menempatkan Sambas sebagai wilayah dengan tingkat keretakan rumah tangga tertinggi di Kalimantan Barat.
Menyusul di peringkat kedua, Kota Pontianak mencatatkan 885 kasus. Meskipun secara total berada di bawah Sambas, Kota Pontianak memiliki angka perceraian karena faktor ekonomi yang cukup tinggi, yakni sebanyak 141 kasus, mengungguli wilayah lainnya dalam kategori pemicu finansial tersebut.
Masalah Ekonomi Jadi Pemicu Utama
Selain faktor perselisihan yang terus-menerus, masalah ekonomi tetap menjadi “hantu” yang merusak keharmonisan rumah tangga. Di seluruh Kalimantan Barat, tercatat sebanyak 539 pasangan bercerai karena alasan finansial.
Kota Pontianak memimpin daftar perceraian karena faktor ekonomi, diikuti oleh Kabupaten Ketapang dengan 118 kasus, dan Kota Singkawang dengan 55 kasus. Sebaliknya, wilayah seperti Kabupaten Melawi dan Kapuas Hulu mencatatkan angka yang jauh lebih rendah dalam kategori ini, masing-masing hanya sebanyak 6 kasus.
Susulan Kabupaten Lain
Di bawah Sambas dan Pontianak, beberapa kabupaten lain juga menunjukkan angka yang patut diwaspadai:
- Kabupaten Ketapang: 748 kasus.
- Kabupaten Kubu Raya: 696 kasus.
- Kabupaten Sintang: 388 kasus.
Secara keseluruhan, total kasus perceraian di Kalimantan Barat mencapai angka 5.545 kasus. Data ini menunjukkan bahwa hampir di setiap sudut provinsi, pasangan suami-istri menghadapi berbagai masalah pelik yang berujung pada perpisahan, mulai dari faktor murtad, kawin paksa, hingga masalah ekonomi yang mendominasi di wilayah perkotaan.
