Anggrek Rawa Genus Phaius Ditemukan di Gunung Saran, Sintang: Sinyal Positif Kelestarian Hutan Tropis

Bagikan:

‎Sebuah kabar baik bagi dunia konservasi datang dari jantung Kalimantan Barat. Blenda Ressila, seorang pencinta alam sekaligus penjelajah, berhasil menemukan spesies anggrek rawa dari genus Phaius di kawasan Gunung Saran, Kabupaten Sintang, pada Senin (22/6/2026).

‎Anggrek dari genus Phaius dikenal memiliki pesona yang khas dengan ukuran bunga yang relatif besar dan gradasi warna yang memikat.

‎Kehadirannya di kawasan Gunung Saran menarik perhatian karena anggrek jenis ini membutuhkan kondisi lingkungan yang sangat spesifik untuk dapat tumbuh dan berkembang dengan baik.

‎Blenda mengungkapkan bahwa keberadaan anggrek spesies asli ini bukan sekadar pemandangan indah di tengah hutan. Lebih dari itu, tanaman ini bertindak sebagai indikator alami bagi kesehatan lingkungan sekitarnya.

‎​”Keberadaan anggrek spesies asli di habitat alaminya ini emberikan harapan besar bagi kelestarian hutan tropis kita. Ini menandakan bahwa ekosistem tempatnya tumbuh masih terjaga dengan sangat baik,” ujar Blenda kepada moodkalbar.com

‎​Gunung Saran, yang secara administratif terletak di Kabupaten Sintang, memang terkenal memiliki kekayaan flora dan fauna yang tinggi. Penemuan ini mempertegas pentingnya menjaga kawasan tersebut dari aktivitas yang dapat merusak keseimbangan alam, seperti pembalakan liar atau alih fungsi lahan.

‎Pelestarian keanekaragaman hayati bukanlah slogan tanpa makna yang terus-menerus digaungkan tanpa aksi. Penemuan anggrek rawa ini menjadi pengingat kuat bagi kita semua—mulai dari masyarakat lokal, wisatawan, hingga pemangku kebijakan—untuk mengambil peran aktif dalam menjaga bentang alam yang tersisa.

‎​Blenda berharap, penemuan ini dapat memicu kesadaran yang lebih luas tentang pentingnya perlindungan habitat alami.

‎”Ketika kita menjaga hutan tempat anggrek Phaius ini tumbuh, kita tidak hanya menyelamatkan satu spesies bunga, melainkan juga melindungi seluruh jaring-jaring kehidupan yang menopang masa depan paru-paru dunia.” tutupnya

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *