Kemacetan di Pontianak Dipicu Rendahnya Kesadaran Tata Tertib

Bagikan:

‎Mood Kalbar – Kemacetan lalu lintas jamak menjadi momok kota-kota besar akibat lonjakan jumlah kendaraan. Namun, realitas di Kota Pontianak menyuguhkan potret yang berbeda. Sabtu, 27/06/2026‎‎.

Salah seorang warga Pontianak yang kini memilih menetap di Surabaya selama dua tahun terakhir, mengungkapkan keresahannya. Ia mengaku justru lebih sering terjebak macet di Pontianak ketimbang di Surabaya.‎‎

“Ibu kota Kalimantan Barat ini berulang kali menghadapi kepungan macet bukan semata-mata karena volume kendaraan yang membeludak, melainkan akibat minimnya sarana prasarana yang memadai serta diperparah oleh perilaku pengemudi yang tidak tertib.” ujar Jhon.

‎‎Menurutnya, hampir setiap kali ia berkendara di Pontianak, ia selalu menemui titik kemacetan yang dipicu oleh perilaku ugal-ugalan sesama pengguna jalan. Faktor ketidaknyaman tersebut yang membulatkan tekadnya untuk pindah ke Jawa Timur.‎‎

Kemacetan Jadi Keresahan

Video yang ia bagikan di akun media sosialnya memperlihatkan bagaimana para pengendara mengabaikan aturan dasar lalu lintas. Banyak pengemudi sengaja berhenti jauh melampaui garis zebra cross, bersiap menerobos lampu lalu lintas bahkan sebelum giliran lampu hijau menyala. ‎

“Jika otoritas terkait tidak segera mengambil langkah perbaikan yang konkret, kota ini diprediksi akan menghadapi kemacetan total di setiap jam dalam kurun waktu lima tahun ke depan.” tambahnya‎‎.

Ia menambahkan, persoalan tersebut bukan lagi bertumpu pada minimnya anggaran atau dana pembangunan daerah. Publik kini menuntut keseriusan, komitmen, dan ketegasan dari Pemerintah Kota Pontianak serta aparat penegak hukum untuk membenahi karut-marut transportasi publik.‎‎

Selain faktor perilaku pengendara, menurutnya, keberadaan Pedagang Kaki Lima (PKL) yang tidak tertata di bahu jalan turut menyumbang andil besar terhadap penyempitan jalur lalu lintas. Aktivitas ekonomi informal ini memicu efek domino yang langsung melumpuhkan arus kendaraan di sekitarnya.‎‎”

“Sebagai gambaran matematis di lapangan, satu mobil yang berhenti selama satu menit saja di bahu jalan padat untuk berbelanja, mampu memicu ekor kemacetan hingga lima menit ke belakang. Skenarionya akan jauh lebih buruk jika ada lebih dari satu mobil yang berhenti dengan durasi mencapai lima menit atau lebih. Arus lalu lintas otomatis akan langsung terkunci.” tambah Jhon.

‎‎Mendorong kemajuan Kalimantan Barat, khususnya Kota Pontianak, tidak bisa hanya mengandalkan pembangunan fisik semata. Pemerintah daerah perlu melakukan evaluasi total, mulai dari sterilisasi trotoar dan bahu jalan dari PKL, penataan kantong parkir yang representatif, hingga penegakan hukum yang tanpa pandang bulu bagi para pelanggar lampu merah.

Muhammad Rizki
Muhammad Rizki
Articles: 173

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *