
Pontianak, Mood Kalbar – Jagat maya baru-baru ini dihebohkan dengan sikap Master of Ceremony (MC) yang memandu final LCC Empat Pilar MPR RI 2026 di Kalimantan Barat. Sosok yang menuai kritik tajam karena meminta peserta “memaklumi” ketidakadilan juri tersebut diketahui bernama Shindy Lutfiana.
Kekacauan bermula saat juri melempar pertanyaan rebutan mengenai lembaga yang memberikan pertimbangan kepada DPR dalam memilih anggota BPK. Regu C (SMAN 1 Pontianak) menjawab dengan lantang: “…dengan memperhatikan pertimbangan DPD.”
Anehnya, juri langsung menyalahkan jawaban tersebut dan memberikan hukuman nilai minus 5. Namun, saat Regu B (SMAN 1 Sambas) mengulangi jawaban yang persis sama, juri justru membenarkannya dan memberi nilai 10. Meski Regu C melayangkan protes keras karena merasa jawaban mereka identik, juri tetap bersikeras pada keputusannya.
MC lomba tersebut diketahui Shindy Lutfiana yang dikenal sebagai spesialis MC wedding di Pontianak.
Gaya MC yang Berujung Fatal
Publik menyoroti sikap Shindy yang dianggap tidak profesional saat menghadapi konflik antara peserta dan dewan juri. Saat Regu C (SMAN 1 Pontianak) memprotes ketidakadilan nilai, Shindy bukannya berdiri sebagai moderator yang netral, melainkan justru memaksa para peserta untuk pasrah.
Kalimatnya “meminta harap memaklumi pendapat dewan juri,” itu memicu kemarahan netizen. Publik menilai gaya persuasif yang biasa ia gunakan sangat tidak relevan untuk ajang akademik yang menjunjung tinggi kebenaran dan objektivitas.
Sikap pasrahnya di hadapan keputusan juri yang jelas-jelas salah nilai kini menjadi bumerang bagi kariernya.
Diduga Kena Mental, Akun Media Sosial Hilang.
Derasnya hujatan dan kritik di kolom komentar rupanya berdampak besar pada psikologis sang MC. Pantauan redaksi Mood Kalbar, akun Instagram pribadi Shindy Lutfiana, @shindy_lutfiana.mc, menghilang secara tiba-tiba tak lama setelah identitasnya tersebar luas.
Tindakan “tutup akun” ini diduga menjadi upaya sang MC untuk menghindari perundungan siber (cyber bullying) yang semakin masif.
