
Mood Kalbar – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kalimantan Barat terus menunjukkan perkembangan. Hingga April 2026, program prioritas nasional tersebut telah menjangkau 1.008.054 penerima manfaat atau sekitar 81 persen dari target sebanyak 1.250.037 penerima.
Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Kementerian Keuangan Kalbar, Rahmat Mulyono, mengatakan capaian tersebut didukung oleh 396 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang tersebar di berbagai kabupaten dan kota. Ke depan, jumlah SPPG ditargetkan bertambah menjadi 586 unit agar seluruh sasaran penerima dapat terlayani.
Menurutnya, perkembangan tersebut menunjukkan pelaksanaan MBG di Kalimantan Barat berjalan sesuai target dan diharapkan mampu meningkatkan kualitas gizi masyarakat.
Namun di balik perluasan cakupan program, tantangan penurunan stunting masih dihadapi sejumlah daerah.
Stunting di Sanggau Meningkat
Berdasarkan data Pemerintah Kabupaten Sanggau, prevalensi stunting pada triwulan I 2026 mencapai 21,82 persen. Angka tersebut meningkat 1,32 poin persentase dibandingkan tahun 2025 yang berada di angka 20,50 persen.
Kenaikan prevalensi stunting itu menjadi perhatian pemerintah daerah. Berbagai upaya terus dilakukan, mulai dari penguatan intervensi gizi, pendampingan ibu hamil, pemantauan tumbuh kembang balita, hingga peningkatan kualitas sanitasi dan layanan kesehatan.
Pemerintah menilai penanganan stunting tidak cukup hanya mengandalkan satu program, melainkan membutuhkan kolaborasi lintas sektor agar hasilnya lebih optimal.
Dinkes Kubu Raya Belum Bisa Ukur Dampak MBG
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kubu Raya, Wan Iwansyah, mengatakan pihaknya belum dapat menyimpulkan sejauh mana Program MBG berpengaruh terhadap penurunan angka stunting di daerahnya.
Menurut Wan, hal tersebut karena kelompok sasaran utama pencegahan stunting, yakni bayi, balita, dan ibu menyusui (3B), belum seluruhnya menerima manfaat dari program tersebut.
“Belum 100 persen sasaran 3B mendapatkan asupan dari program MBG. Karena itu kami belum bisa melihat hubungan langsung antara MBG dengan penurunan angka stunting,” ujarnya.
Ia menjelaskan, dampak program terhadap prevalensi stunting baru dapat diukur apabila seluruh kelompok rentan telah menerima intervensi gizi secara menyeluruh dan berkelanjutan.
Tata Kelola Program Terus Diperkuat
Selain memperluas cakupan penerima manfaat, pemerintah juga memperkuat tata kelola Program MBG. Kanwil DJPb Kalbar bersama Balai Diklat Keuangan Pontianak menghadirkan layanan Financial Advisory Pembukuan Akuntan SPPG melalui aplikasi KAPUAZ.
Inovasi tersebut bertujuan membantu pengelolaan keuangan SPPG agar lebih tertib, transparan, dan akuntabel sehingga pelaksanaan Program MBG dapat berjalan lebih efektif dan tepat sasaran.
Meski jumlah penerima manfaat MBG di Kalimantan Barat telah menembus satu juta orang, peningkatan angka stunting di Sanggau serta belum terukurnya dampak program di Kubu Raya menunjukkan bahwa upaya penanganan stunting masih membutuhkan waktu, dan pemerataan layanan.






