
Mood Kalbar – Masyarakat Kalimantan Barat memperingati Hari Berkabung Daerah setiap tanggal 28 Juni. Peringatan ini merupakan bentuk penghormatan kepada puluhan ribu korban Peristiwa Mandor, salah satu tragedi kemanusiaan terbesar yang terjadi pada masa pendudukan Jepang di Kalimantan Barat.
Hari Berkabung Daerah menjadi momentum untuk mengenang pengorbanan para pejuang, tokoh masyarakat, raja-raja, tokoh agama, kaum cendekiawan, hingga rakyat biasa yang menjadi korban kekejaman tentara Jepang selama masa penundukan.
Setiap 28 Juni, pemerintah daerah bersama masyarakat biasanya melaksanakan upacara dan ziarah di Makam Juang Mandor serta mengibarkan bendera Merah Putih setengah tiang sebagai simbol penghormatan dan duka cita.
Tanggal dan tujuan Hari Berkabung Daerah
Penetapan tersebut didasari Peraturan Daerah Provinsi Kalimantan Barat Nomor 5 Tahun 2007 tentang Peristiwa Mandor sebagai Hari Berkabung Daerah dan Makam Juang Mandor sebagai Monumen Daerah Provinsi Kalimantan Barat.
Peringatan tersebut bertujuan untuk memperingati bahwa masyarakat Kalimantan Barat dari berbagai latar belakang turut berjuang dalam merebut kemerdekaan Indonesia dari penjajahan Jepang.

Peringatan ini juga sebagai bentuk penghormatan terhadap jasa para korban Peristiwa Mandor sekaligus melestarikan nilai-nilai perjuangan sehingga semangat persatuan, patriotisme, dan pengorbanan para pendahulu dikenang oleh generasi penerus.
Catatan Sejarah Peristiwa Mandor
Peristiwa Mandor, yang juga dikenal dengan istilah Insiden Pontianak, mencapai puncaknya pada 28 Juni 1944 di wilayah Mandor, Kabupaten Landak. Tragedi yang berisi pembantaian massal yang dilakukan tentara Jepang terhadap masyarakat Kalimantan Barat tanpa membedakan suku, etnis, agama, maupun status sosial.
Peristiwa bermula sejak September 1943 hingga awal 1944, ketika tentara Jepang melakukan penangkapan terhadap berbagai kalangan bangsawan, tokoh adat, tokoh agama, politisi, pegawai pemerintahan, kaum intelektual, pedagang, hingga masyarakat umum.
Peristiwa tersebut dilatarbelakangi kekhawatiran Jepang terhadap munculnya gerakan perlawanan di Kalimantan Barat di tengah upaya mereka menguasai sumber daya alam di wilayah tersebut.
Sebelum pembantaian massal terjadi, masyarakat juga mengalami berbagai tindakan intimidasi, salah satunya yang dikenal sebagai peristiwa Cap Kapak, ketika tentara Jepang melakukan aksi teror untuk menekan agresivisme masyarakat.
Sejumlah catatan sejarah menyebut jumlah korban mencapai sekitar 21.037 orang, meskipun pihak Jepang pada masa itu mengklaim jumlah korban jauh lebih sedikit.
Hingga kini, Hari Berkabung Daerah menjadi peringatan bahwa perjuangan dan pengorbanan para pendahulu tidak boleh. Momentum ini juga menjadi sarana memahami sejarah bagi generasi penerus.






